Tumpahan Minyak Pertamina di Karawang Rugikan Nelayan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Insiden tumpahan minyak Pertamina di Karawang, Jawa Barat, dua pekan lalu kian menimbulkan dampak negatif. Diantaranya kerusakan ekosistem laut dan merugikan para nelayan.

Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan pada Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Widodo Pranowo menyebutkan tumpahan minyak saat ini mencapai pantai arah barat 2 km dari pantai masih berada di zona pesisir.

“Efeknya ke kehidupan ekosistem perairan disamakan dari mulai terumbu karang, mangrus, lamun, dan tentunya ikan yang tertutup minyak mentah dalam jangka waktu tertentu akan mati,” ujar Widodo kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (26/7).

Menurut dia, kerusakan akan berlangsung dalam jangka waktu panjang. Sehingga ekosistem laut baik terumbu karang maupun ikan akan rusak dan mati.

”Kerusakan lingkungan perairan pesisir dan ekosistemnya berdampak jangka panjang terhadap daerah asuhan ikan,” kata dia.

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati, menyayangkan kejadian tumpahan minyak, karena hal seperti ini terjadi bukan untuk kali pertama. Catatan dia, tumpahan besar pernah terjadi di Teluk Balikpapan.

Lanjut dia, hingga hari ini di Karawang, tumpahan minyak terlihat menggupal dan bau yang sangat menyengat. Dia memperkirakan terumbu karang, plankton dan ikan akan rusak dan mati.

“Dampaknya akan sangat luar biasa dirasakan oleh nelayan, otomotis mereka tidak bisa melaut karena lautnya tercemar,” kata dia.

Sampai saat ini pihakanya masih menghitung berapa kerugian yang ditimbulkan dari tumpahnya pinyak di perairan Karawang itu.

Sementara itu, Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu menuturkan, agar tumpahan minyak tidak menyebar pihaknya bersama warga sekitar mengangkat limbah dari laut.

“Kami bekerjasama dengan warga sekitar, mengangkut limbah dengan truk dan dibawa ke pengolahan limbah tersertifikasi, dan kami sedang diskusi untuk mendapatkan persetujuan agar dapat mengolah tumpahan ini dan dipastikan tidak menimbulkan efek lainnya,’ ujar dia di Jakarta, Kamis (25/7).

Selain itu, upaya lain yang dilakukan yakni dengan pendekatan over react untuk mematikan sumber tumpahan minyak dan gas ini.

Pertamina memastikan akan mematikan sumur YYA-1 itu dengan melakukan pengeboran secara horizontal hingga melintasi jalur sumur YYA-1 dengan alat baru bernama Rig Suhana.

Soal berapa banyak jumlah minyak yang tumpah, Dharmawan mengatakan puncaknya dua hari lalu produksi bisa lebih dari 3.000 barel per hari.

”Ini adalah angka perhitungan untuk pastikan berapa alat yang kita butuhkan, bukan pasti realisasi tapi untuk estimasi armada yang harus dibangun untuk antisipasi volume yang keluar,” ucap dia.

Upaya penanggulangan juga dilakukan sejumlah pihak salah satunya adalah KKP.

Widodo mengungkapkan ada dua upaya penanggulangan utama yang dilakukan KKP.
Pertama, mengisolasi dan menutup atau menanggulangi kebocoran supaya tidak terus menerus mengeluarkan minyak.

Kedua, membersihkan minyak yang telah terangkut dan tersebar ke pantai dan perairan pantai agar tidak berdampak terhadap kerusakan lebih lanjut.

Dia menginformasikan KKP sejak 2016 telah mempunyai Tim Penanggulangan Dampak Pencemaran Tumpahan Minyak (TPDPTM) melalui SK Menteri Susi Pudjiastuti.

Upaya KKP, sejak beberapa hari yang lalu, Pusat Riset Kelautan KKP dan Balai Riset Observasi Laut KKP telah melakukan analisis citra satelit untuk mendeteksi luasan tumpahan minyak, dan melakukan pantauan hingga beberapa hari ke depan dampaknya.

Pada 24 Juli 2019, Tim survei KKP dikoordinatori oleh Direktorat Pengelolaan Ruang Laut, melakukan pendataan dampak terhadap sosek masyarakat didampingi oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kerawang.

“Masih kita hitung dan cek untuk membantu menanggulangi dampak yang terjadi di sekitar pesisir pantai Karawang, ‘ ujar Widodo.

Sebagaimana diketahui, tumpahan minyak terjadi di blok migas milik anak usaha PT Pertamina. kejadian ini terjadi di lokasi pemboran lepas laut milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) sejak 12 Juli lalu, akibat aktivitas re-entry saat pengeboran di sumur YYA-I.

(ds/din/fin)

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 27 Juli 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami