Umrah Disetop, Pemerintah Harus Cari Solusi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Penangguhan penyelenggaraan umroh oleh Pemerintah Arab Saudi berdampak pada jamaah Indonesia, baik yang akan berangkat maupun yang sudah berada di Arab. Untuk itu pemerintah harus segera memberikan solusi agar para jamaah tidak resah.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ihsan Yunus dalam keterangannya meminta pemerintah segera memberikan solusi agar masyarakat yang tertunda melaksanakan umrah bisa mendapatkan haknya setelah kondisi membaik.

“Pemerintah harus memastikan jamaah bisa berangkat dengan penjadwalan ulang, nanti setelah dicabutnya kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menangguhkan sementara visa kunjungan umrah ke Mekah dan Madinah karena dampak penyebaran virus corona (COVID-19),” katanya di Padang, Sumbar, Jumat (28/2).

Ihsan meminta pemerintah segera melakukan pendekatan kepada Kerajaan Arab Saudi untuk meyakinkan bahwa Indonesia bukan negara yang terjangkit virus corona.

“Hingga saat ini kan belum ada masyarakat Indonesia yang terjangkit,” ujarnya.

Dikatakananya, dua kerugian yang akan dialami jamaah dengan penundaan keberangkatan itu, yakni kerugian materi dan psikologi. Ada jamaah yang menabung sejak lama untuk berangkat, kemudian dengan adanya masalah ini juga menjadi kesedihan bagi mereka.

“Di Indonesia rata-rata per bulan itu ada sekitar 110.000 jamaah yang berangkat umrah, sehingga ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Dia juga meminta agar masyarakat yang sudah dijadwalkan akan berangkat umrah untuk bersabar.

“Kita beri kesempatan pada pemerintah untuk mencari solusi terlebih dahulu,” katanya.

Senada diungkakan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh (Amphuri). Anggota Amphuri sekaligus pemilik PT Taibah Semesta Wisata Tour & Travel, H Rudi Rahmadi mengatakan penangguhan tersebut sangat memukul penyelenggara umroh.

“Karena akan berdampak pada perubahan teknis terhadap jamaah umroh, yang semuanya berkonsekuensi pada jadwal dan biaya-biaya,” katanya.

Untuk menghindari kerugian besar dan menjamin keberlangsungan ibadah umroh bagi jamaah, dia dan para pelaku usaha serupa, mendesak kepada pemerintah turun tangan mencari solusi terbaik.

Dia juga meminta agar calon jamaah tidak membatalkan, tapi melakukan penjadwalan ulang waktu keberangkatannya sesuai dengan jadwal yang tersedia.

Sementara itu Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan pihaknya sudah meminta otoritas Arab Saudi mempertimbangkan memberikan fasilitas perpanjangan atau penerbitan ulang visa umrah tanpa biaya bagi jamaah yang sudah mendapat visa umrah.

Sedangkan jamaah asal Indonesia yang sekarang sudah berada di Arab Saudi tetap bisa menunaikan ibadah umrah. Sementara yang masih berada di negara transit tidak bisa menuju Arab Saudi, maskapai akan memulangkan mereka karena kondisi kahar atau force majeure. Tercatat 1.685 jamaah tertahan di negara ketiga pada saat transit.

“Maskapai tidak akan menghanguskan tiket penerbangan pergi-pulang jamaah umrah yang terdampak kebijakan Pemerintah Arab Saudi,” tegasnya.

Dijelaskannya, maskapai penerbangan akan melakukan penjadwalan ulang keberangkatan jamaah tanpa mengenakan biaya tambahan.

“Tidak akan dibebani biaya tambahan apa pun,” katanya.

Fachrul juga bersyukur pihak-pihak yang terkait dengan pelayanan jamaah umrah tulus membantu jamaah.

“Tidak. Kita tidak ngomong kerugian. Semua memecahkan persoalan dengan tulus dan saya salut sekali semua menyatakan sikap yang sama, ini bagian dari ibadah, tulus mengatasinya,” kata dia.

Dia juga mengatakan sebanyak 2.393 jamaah umrah Indonesia terdampak atas penghentian sementara Arab Saudi menerima masuk peziarah.

“Jamaah Indonesia yang terdampak karena tidak berangkat pada tanggal 27 Februari 2020 sebanyak 2.393 jamaah,” katanya.

Fachrul mengatakan 2.393 jamaah terdampak itu berasal dari 75 Penyelenggara Perjalanan lbadah Umrah (PPIU) yang diangkut delapan maskapai penerbangan.

Sementara itu Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya mengatakan pihaknya akan menjemput kurang lebih 13.000 jamaah umroh dari Madinah yakni Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz (MED) dan Jeddah yakni Bandar Udara Internasional King Abdulaziz (JED) untuk kembali ke Indonesia.

“Lion Air mempersiapkan penerbangan dari Indonesia yang membawa awak pesawat dan tanpa penumpang (ferry flight) guna penjemputan sesuai jadwal,” katanya.

Dalam mengakomodasi penerbangan penjemputan, Lion Air mengoperasikan armada berbadan lebar (wide body), antara lain Airbus 330-300CEO (berkapasitas 440) dan Airbus 330-900NEO yang memiliki 436 kapasitas kursi.

“Semua armada telah dipersiapkan sesuai standar operasional prosedur, sudah menjalani pemeriksaan dan dinyatakan laik terbang (airworthy for flight),” katanya.(gw/fin)

  • Dipublish : 29 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami