Vaksin Tiongkok Diragukan, Ahli : Sinovac dan Pfizer Sama Manjurnya!

ILUSTRASI. (AFP)
ILUSTRASI. (AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Vaksin Covid-19 dari Tiongkok belakangan kerap dibandingkan dengan vaksin Barat. Sebab, ratusan tenaga kesehatan di Indonesia dan Thailand tetap terinfeksi Covid-19 meski sudah disuntik vaksin Sinovac.

Perbedaan perlakuan terhadap vaksin Sinovac juga terjadi di Singapura. Baru-baru ini, Malaysia juga menghentikan penggunaan Sinovac.

Namun klarifikasi disampaikan oleh Consultant Cardiologist di Penang, Malaysia dr. Ong Hean Teik. Ia tak sepakat jika penghentian sementara vaksin Sinovac oleh pemerintah mencerminkan kurangnya kepercayaan pada kemanjuran Sinovac. Dirinya justru memaparkan data medis yang diterbitkan dengan sangat baik tentang efektivitas sebenarnya dari Sinovac yang digunakan dalam dunia nyata.

Pada 7 Juli, New England Journal of Medicine menerbitkan laporan tentang pengalaman Sinovac di Cile dari Februari hingga Mei 2021 yang mengamati 4,2 juta orang yang divaksinasi lengkap dibandingkan dengan 5,5 juta penduduk yang tidak divaksinasi. Sinovac ditemukan dapat mengurangi infeksi Covid-19 sebesar 65,9 persen mengurangi rawat inap sebesar 87,5 persen mengurangi masuk ICU sebesar 90,3 persen dan mengurangi kematian sebesar 86,3 persen.

Berbeda dengan artikel dari Cile yang memiliki 218.784 kasus Covid-19, uji coba Pfizer yang melaporkan kemanjuran 95 persen sangat kecil dan menganalisis hanya 170 kasus Covid-19 (8 divaksinasi, 162 di kelompok tidak divaksinasi). Kementerian Kesehatan Isreal juga baru-baru ini menunjukkan bahwa efektivitas vaksin Pfizer terhadap infeksi Covid-19 adalah 64 persen, meskipun masih 93 persen efektif terhadap rawat inap dan penyakit serius.

“Tidak ada banyak perbedaan antara vaksin Sinovac dan Pfizer dalam penggunaan praktis yang sebenarnya. Keduanya sangat efektif mencegah penyakit parah dan rawat inap, tetapi kurang efektif melawan Covid-19 ringan atau tanpa gejala,” tegasnya seperti dilansir oleh The Online Citizen, Senin (19/7).

“Penangguhan sementara penggunaan Sinovac oleh pemerintah Malaysia tidak ada hubungannya dengan kemanjuran vaksin tetapi masalah logistik,” tegasnya.

Setelah memesan dan menerima 32 juta dosis Sinovac, hampir 16 juta dosis telah diberikan, artinya 16 juta dosis sisanya harus dicadangkan sebagai dosis kedua bagi mereka yang telah menerima injeksi Sinovac pertama. Sementara itu stok Pfizer belum habis begitu cepat, dan wajar dan logis untuk menggunakan vaksin Pfizer bagi mereka yang datang untuk dosis vaksinasi pertama. Hal ini telah diklarifikasi oleh Menteri Khiary dan Pharmaniaga.

“Sinovac akan tetap tersedia di pusat kesehatan swasta bagi mereka yang ingin menggunakannya, dengan jelas menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan senang dengan kemanjurannya dan terus menggunakannya,” kata dr. Ong.

Ia menegaskan, penting untuk tidak mencampuradukkan masalah logistik dengan kemanjuran vaksin karena kesalahpahaman seperti itu dapat menghambat upaya untuk mendorong orang melakukan vaksinasi. Sebagai kesimpulan, literatur medis menunjukkan dengan jelas bahwa Sinovac dan Pfizer sangat efektif melawan Covid-19 yang serius, tetapi kurang efektif dalam mencegah penyakit ringan.

“Poin ini penting untuk menggalang masyarakat untuk mempertahankan SOP bahkan setelah vaksinasi. Mereka yang divaksin tetap dapat tertular Covid-19 ringan atau tanpa gejala dan menularkan penyakit tersebut kepada orang lain, sehingga social distancing dan protokol kesehatan harus tetap dilakukan untuk memerangi penyebaran Covid-19,” tegasnya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 21 Juli 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami