Vaksinasi Covid-19 Lambat, Eropa Alami Gelombang Ketiga

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

EROPA – Prancis gagal mengatasi lonjakan penularan Covid-19. Rabu (31/3) pemerintahan Presiden Emmanuel Macron mengumumkan kembali diberlakukannya lockdown nasional. Dimulai Sabtu (3/4) hingga sebulan ke depan. Itu adalah lockdown nasional ketiga yang diterapkan Prancis.

Penduduk dilarang melakukan perjalanan domestik selama kuntara. Sekolah-sekolah juga ditutup selama tiga minggu terhitung mulai Senin (5/4). Selama sepekan mereka akan belajar jarak jauh. Dua minggu lainnya diliburkan.

Kamis (1/4) juga diterapkan kebijakan baru. Yaitu, dilarang mengonsumsi minuman beralkohol di tempat umum. Penduduk yang kumpul-kumpul lebih dari enam orang akan langsung dibubarkan. Perusahaan juga disarankan memberlakukan kembali work from home. Jam malam berlaku nasional pukul 19.00–06.00. Sebagian besar toko ditutup. Penduduk hanya boleh keluar dengan radius 10 kilometer dari rumah.

”Jaksa secara sistematis harus menyelidiki penyelenggara pesta-pesta rahasia yang bisa berimbas membahayakan nyawa orang lain,” tegas Perdana Menteri (PM) Prancis Jean Castex seperti dikutip Agence France-Presse.

Pemerintah Prancis terpaksa menerapkan pembatasan ketat demi mengendalikan penularan Covid-19. Kematian akibat pandemi di Prancis sudah mendekati 100 ribu orang. Rumah sakit di kota-kota besar mulai kewalahan menerima pasien. Banyak ICU yang penuh. Dengan lockdown, diharapkan beban rumah sakit bisa berkurang.

Pemerintah juga berjanji untuk mempercepat proses vaksinasi. Salah satunya memberikan akses kepada semua penduduk di atas 60 tahun pada pertengahan April. Vasinasi untuk usia 50–60 tahun dimulai pada pertengahan Mei.

Selama ini yang jadi prioritas vaksinasi adalah orang-orang di panti jompo, tenaga medis, orang yang sakit parah, dan mereka yang berusia 70 tahun ke atas. ”Jika kita bersatu dalam beberapa pekan ke depan, kita akan melihat harapan,” tegas Macron.

Saat ini Eropa mengalami gelombang penularan ketiga. Total angka kematian akibat Covid-19 di Eropa sudah mendekati satu juta orang dengan total 45 juta kasus. Akibat tingginya kasus, 27 negara di wilayah Eropa menerapkan lockdown nasional maupun sebagian.

Gelombang penularan yang melanda negara-negara Eropa mungkin disebabkan rendahnya angka vaksinasi. Badan Kesehatan Dunai (WHO) kemarin mengecam Eropa karena lambatnya distribusi vaksin. Saat ini baru 10 persen dari total populasi penduduk Eropa yang menerima vaksin. Itu pun baru 4 persen yang sudah divaksin penuh atau mendapat dua kali injeksi.

”Vaksin adalah jalan keluar terbaik untuk keluar dari pandemi. Tapi, peluncuran vaksin (Covid-19) ini sangat lambat,” ujar Direktur WHO wilayah Eropa Hans Kluge.

Kluge menegaskan bahwa proses vaksinasi harus dipercepat. Caranya adalah dengan meningkatkan produksi, mengurangi hambatan untuk mendapatkan vaksin, serta menggunakan setiap botol vaksin yang ada untuk segera diinjeksikan kepada penduduk.

Kanada mengalami hal serupa. Ontario akan lockdown selama 28 hari mulai Sabtu nanti. Ada 14 juta orang yang tinggal di sana. Itu setara dengan lebih dari sepertiga populasi Kanada. Kebijakan tersebut diambil setelah kasus harian di provinsi itu mencapai lebih dari 2 ribu orang selama sepekan terakhir.

Di Amerika Serikat, para pakar kesehatan khawatir Negeri Paman Sam itu akan memasuki penularan gelombang keempat Covid-19. Kenaikan kasus terjadi di berbagai wilayah. Di lain pihak, beberapa gubernur mulai melonggarkan aturan pembatasan penularan Covid-19 di wilayahnya.

Vaksinasi memang gencar dilakukan. Tapi, longgarnya penggunaan masker berpotensi memperburuk situasi. Di sisi lain, warga AS akan merayakan Paskah dan libur musim panas.

”Meski kita di awal gelombang keempat, ada alasan bagus untuk berpikir bahwa ini terlalu berbahaya seperti tiga gelombang lainnya,” kata Dr Mark Roberts, direktur laboratorium Public Health Dynamics di University of Pittsburgh seperti dikutip Time. (JawaPos.com)

  • Dipublish : 2 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami