Virus Corona 10 Kali Lebih Jahat Ketimbang Flu Babi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JENEWA – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai virus corona penyebab COVID-19, sepuluh kali lebih mematikan daripada flu babi yang melanda dunia pada 2009.

Pria asal Etiopia berusia 55 tahun itu mengungkap hal tersebut saat pengarahan virtual dari Jenewa.

Virus corona telah membunuh hampir 120.000 orang dan menginfeksi lebih dari 1,9 juta manusia di muka bumi.

“COVID-19 menyebar dengan cepat, dan kami tahu itu mematikan, sepuluh kali lebih mematikan daripada pandemi flu 2009,” katanya seperti dikutip dari AFP, Senin (14/4).

WHO mengatakan 18.500 orang meninggal karena flu babi atau H1N1, yang pertama kali ditemukan di Meksiko dan Amerika Serikat pada Maret 2009. Namun, petugas medis Lancet (jurnal seputar medis, pengobatan) memperkirakan jumlah korban saat itu antara 151.700 dan 575.400.

Tinjauan Lancet termasuk perkiraan kematian di Afrika dan Asia Tenggara yang tidak diperhitungkan oleh WHO.

Wabah itu, yang dinyatakan sebagai pandemi pada Juni 2009 dan dipertimbangkan pada Agustus 2010, ternyata tidak mematikan seperti yang ditakutkan pertama kali.

WHO saat itu bahkan dikritik karena bereaksi berlebihan karena epidemi influenza tahunan setiap tahun menewaskan antara 250.000 dan 500.000 orang.

Tedros menyesalkan melihat kecenderungan beberapa negara yang berpadangan bahwa dengan menemukan kasus awal, menguji, mengisolasi (dan) merawat setiap kasus dan melacak setiap kontak maka mereka bisa mengendalikan dalam virus.

Tedros mengingatkan bahwa virus corona menyebar dengan cepat. Penambahan kasus lebih besar daripada penurunan kasus. “Dengan kata lain, jalan turun jauh lebih lambat daripada naik,” katanya.

“Langkah-langkah pengendalian (social distancing, lockdown atau sejenisnya-red) hanya bisa dicabut jika langkah-langkah kesehatan masyarakat yang tepat sudah ada,” ujarnya.

WHO juga mengakui para pakar mereka berpandangan bahwa pengembangan atau penemuan vaksin merupakan hal yang paling diperlukan untuk sepenuhnya menghentikan transmisi. Vaksin itu sendiri diperkirakan ada setidaknya pada 12 hingga 18 bulan lagi. (afp/jpnn/jm)

  • Dipublish : 14 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami