Virus Covid-19 di Indonesia Lebih Cepat Menular

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Tim peneliti Indonesia mendeteksi adanya strain virus corona penyebab COVID-19 yang lebih cepat menular. Strain tersebut merupakan hasil mutasi virus corona.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio. Dikatakannya, strain virus corona yang lebih cepat menular (infectious) tersebut yaitu D614G.

D614G, strain mutasi dari virus SARS-CoV-2 tersbeut juga ternyata terdeteksi juga di sejumlah negara lain termasuk Malaysia.

“Yang mungkin menjadi perhatian utama saat ini adalah pertanyaan apakah ada di antara virus-virus yang ‘whole genom sequencing’-nya (pengurutan keseluruhan genom) sudah di dilaporkan ke GISAID, apakah ada yang mengandung mutasi yang menunjukkan virus itu memiliki potensi bisa menular lebih cepat yaitu disebut D614G. Dapat kami sampaikan saat ini memang sudah diidentifikasi dan sudah dilaporkan,” katanya, Jumat (28/8).

Dikatakannya, pihaknya bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Universitas Padjajaran dan Universitas Airlangga akan terus melakukan kegiatan whole genom sequencing (WGS) atau pengurutan keseluruhan genom dari virus SARS-CoV-2. Tujuannya agar mendapatkan lebih banyak informasi genetik tentang virus itu.

“Sehingga kita bisa memahami karakteristik virus dan mutasi yang terjadi,” ungkapnya.

Ilmuwan Biologi Molekuler Herawati Supolo Sudoyo mengatakan perubahan atau mutasi pada virus SARS-CoV-2 itu menyebabkan virus menjadi lebih infeksius. Namun, transisi di setiap wilayah di dunia mulai dari Eropa, Amerika Utara, Oceania dan Asia akan berbeda.

Dijelaskannya, Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengklasifikasikan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menjadi tujuh tipe atau clade yakni S, V, L, G, GH, GR dan O (others/lainnya). Clade GH merupakan tipe yang paling agresif. Di Asia pun menurutnya distribusi clade sangat beragam termasuk yang ada di Indonesia.

“Ini juga mengundang pertanyaan apa penyebab variasi tersebut apakah ada kemungkinan lingkungan berpengaruh ataupun inang juga berperan? Betul-betul banyak yang belum diketahui tentang virus ini yang layak untuk diteliti lebih lanjut,” ujar Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman bidang Penelitian Fundamental itu.

Dikatakannya untuk di Indonesia, dari identifikasi data WGS, mayoritas virus SARS-CoV-2 yang beredar Indonesia termasuk tipe L dan O (others/lainnya).

“Sementara ini kebanyakan tipenya adalah L, ini adalah yang baru dengan beberapa pengecualian,” ujar Herawati.

Herawati mengatakan data urutan keseluruhan genom virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 berguna untuk bisa melihat mutasi yang terjadi dan mencari perubahan protein spike dari virus itu.

“Untuk itu, kegiatan “whole genom sequencing” dari virus SARS-CoV-2 masih terus dilaksanakan di Indonesia,” ungkapnya.

Data urutan genom dari virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat digunakan untuk tahap pemilihan fragmen virus untuk pembuatan vaksin. Informasi genetik virus yang diperoleh dari data WGS akan dapat memberikan informasi tentang karakter virus SARS-CoV-2 termasuk secara spesifik virus yang beredar di Indonesia.

Informasi genetik virus itu juga berguna untuk memonitor evolusi virus, melacak rute transmisi dan penyebaran, menentukan kecepatan virus beradaptasi saat menyebar di Indonesia, mengidentifikasi target untuk terapi dan vaksin serta memprediksi ancaman pandemi berikutnya.

“Genom sequences memungkinkan para peneliti mengembangkan target obat dan vaksin yang tepat,” ujarnya.

Per 31 Juli 2020, pangkalan data GISAID menampung 69.607 data virus SARS-CoV-2 dari 84 negara di dunia.

Dan hingga 13.51 WIB pada 28 Agustus 2020, berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman resmi GISAID, ada sebanyak 91.757 urutan genom yang masuk ke bank data GISAID dari berbagai negara di dunia.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro meminta agar seluruh komunitas riset dan inovasi serta lembaga yang melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan harus memperkuat kolaborasi riset dan menghilangkan egoisme keilmuan.

“Tidak boleh ada namanya egoisme keilmuan,” katanya.

Bambang mengatakan semua disiplin ilmu harus saling mengisi untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa, termasuk pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini.

“Saat ini sesuai kebutuhan kita benar-benar berupaya mencari segala macam cara untuk menangani pandemi, baik vaksin, obat, alat kesehatan, berbagai terapi yang diperlukan agar pandemi ini segera teratasi,” ujarnya.

Dia mengapresiasi seluruh peneliti dan ilmuwan yang mendedikasikan ilmu, waktu dan energi untuk menangani permasalahan bangsa terutama pandemi COVID-19.

“Saya harapkan sinergi dan kolaborasi antara individu peneliti dan antarlembaga,” tuturnya.(gw/fin).

  • Dipublish : 29 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami