Virus Marburg Mematikan, WHO Bergerak Lacak 150 Orang Kontak Erat

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. WHO bergerak cepat melacak 150 kontak terkait virus Marburg di Guinea (The Globe and Mail)
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. WHO bergerak cepat melacak 150 kontak terkait virus Marburg di Guinea (The Globe and Mail)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencegah penularan virus Marburg yang ditemukan di Guinea. Jangan sampai satu kasus kematian tersebut menjadi pandemi meluas seperti Covid-19. Berdasar itu, WHO bergerak cepat melacak 150 kontak.

Pelacakan dilakukan termasuk pada tiga anggota keluarga dan seorang petugas kesehatan. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada konferensi pers Rabu (11/8) virus Marburg sangat berbeda dari Sars-CoV-2.

“WHO dan mitra kami mendukung Kementerian Kesehatan Guinea untuk menyelidiki sumber wabah, melacak kontak, dan memberi tahu masyarakat setempat tentang cara melindungi diri mereka sendiri,” kata Tedros dalam sambutan pembukaannya seperti dilansir Hindustan Times.

Pada Jumat pekan lalu, Guinea memberitahukan kepada WHO tentang kasus penyakit virus Marburg di barat daya negara itu. Pasien adalah kasus virus Marburg pertama yang diketahui di Afrika Barat, meninggal 8 hari setelah munculnya gejala. Patogen yang sangat berbahaya itu menyebabkan gejala demam mirip demam berdarah dan tipes. Tingkat kematian rata-rata adalah 50 persen.

“Tidak ada vaksin berlisensi untuk Marburg. Tapi, ada vaksin yang sedang dikembangkan,” tambah Tedros.

Menurut WHO, masa inkubasi penyakit virus Marburg bervariasi dari 2 hingga 21 hari. Gejalanya termasuk demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri otot, muntah dan diare. Ini membuat Marburg sulit didiagnosis pada awalnya karena mirip dengan tipes dan malaria.

“Episode hemoragik biasanya terjadi antara lima dan tujuh hari kemudian, dengan darah di muntahan dan feses serta pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina. Dalam kasus fatal, kematian paling sering terjadi antara delapan dan sembilan hari,” beber WHO di situsnya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 13 Agustus 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami