Wabah Korona: Italia Mati Suri, Saudi Isolasi Kota Qatif

TUTUP AKSES: Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Italia, dipotret dari balik barikade kemarin. Lapangan tersebut tampak sepi setelah pemerintah Italia memberlakukan lockdown yang berlaku secara nasional. (Andrew Medichini/AP)
TUTUP AKSES: Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Italia, dipotret dari balik barikade kemarin. Lapangan tersebut tampak sepi setelah pemerintah Italia memberlakukan lockdown yang berlaku secara nasional. (Andrew Medichini/AP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGANMEDIA.CO.ID,-Tak pernah terbayang di benak Rahayu Munajat Nur Octavia, 28, bakal terjebak di negeri orang. Dalam kondisi darurat. Di tengah persebaran Covid-19 yang begitu masif hingga mengakibatkan akses satu negara ditutup.

’’Saya sempat panik. Soalnya awalnya baru satu hingga dua orang yang kena virus korona, tiba-tiba Minggu ada kabar 200 orang meninggal,” katanya kepada Jawa Pos. Rahayu makin takut saat melihat warga berbondong-bondong meninggalkan Italia pada Minggu lalu (8/3).

”Aku bingung. Mau pulang, tapi takut,’’ lanjutnya.

Rahayu adalah perempuan asli Bandung, Jawa Barat, yang menikah dengan pria Italia. Dia diboyong suaminya ke Italia pada 1 Oktober 2019. Pasangan muda tersebut tinggal di Kota Golasecca, Provinsi Varese.

Dalam ketakutannya, Rahayu berharap bisa kembali ke Indonesia. Namun, dia sadar. Kondisi dirinya tak memungkinkan. Rahayu tengah hamil 29 minggu. Tidak ada jaminan perjalanannya pulang bakal aman. Apalagi, WHO menyatakan tak ada negara yang aman dari virus tersebut. ”Dari Kedubes sudah diinfokan, meski banyak korban di sini, pemerintah nggak akan evakuasi seperti Wuhan,” ungkapnya.

Karena itu, Rahayu memutuskan tetap tinggal di Italia. Dia juga khawatir pada kesehatan suaminya. Meski Italia di-lockdown, suaminya tetap bekerja seperti biasa. Rahayu khawatir suaminya tertular teman kerja atau orang lain. Sebab, orang dari daerah lain masih bisa keluar-masuk ke kota tempat tinggalnya. ”Jadi, walaupun satu negara di-lockdown, antarwilayah masih bisa keluar masuk, kecuali yang ada di zona merah,” terangnya.

Sejak Senin malam, seluruh wilayah Italia memang di-lockdown. Bukan hanya wilayah utara seperti sebelumnya. Kebijakan itu dilontarkan Perdana Menteri (PM) Giuseppe Conte dalam pidatonya Senin malam (9/3). Negara berpenduduk 60 juta jiwa itu diisolasi seluruhnya. Penduduk diharapkan berada di dalam rumah dan tidak bepergian, kecuali untuk urusan yang sangat penting.

JARAK DIATUR: Antrean di salah satu pusat perbelanjaan di Milan. (ASMARA ABIGAIL FOR JAWA POS)

Penduduk langsung merespons dengan berbaris menuju swalayan dan membeli berbagai kebutuhan. Panik bergelayut karena isolasi tidak berlangsung 1–2 hari, tapi hingga 3 April. Dekrit yang dikeluarkan Conte itu juga membuat jalanan di negara tersebut sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berkeliaran atau duduk di luar. Mereka pun membuat jarak aman, yaitu sekitar 1–2 meter antara satu dan yang lainnya. ’’Kami tidak bisa membiarkan pertemuan menjadi peluang untuk penularan,’’ ujar Conte seperti dikutip Agence France-Presse.

Karena itu, semua acara yang melibatkan orang banyak dilarang. Setidaknya hingga wabah korona berakhir. Bioskop, teater, stadion, tempat disko, dan pub ditutup. Acara pemakaman, pernikahan, dan pertandingan olahraga dibatalkan.

Setiap perbatasan antarkota dicek. Penduduk tidak boleh bepergian dari satu kota ke kota lain tanpa keperluan mendesak. Agar diizinkan menyeberang ke wilayah lain, seseorang harus membawa surat yang membenarkan tindakannya. Yang melanggar bisa didenda hingga dijatuhi hukuman kurungan tiga bulan. Sekolah dan universitas juga ditutup untuk sementara.

Dia menamai kebijakannya dengan sebutan I Stay Home alias Saya Tinggal di Rumah. Kebijakan serupa sebelumnya hanya dite-rapkan di Lombardy dan 14 provinsi lain di wilayah utara. Kemarin Venice juga sepi. Kota yang biasanya selalu menjadi jujukan turis itu kini mati suri.

Conte memang harus mengambil langkah ekstrem. Sebab, negaranya menjadi hot spot penularan untuk wilayah Eropa. Angka kematian akibat virus korona di negara tersebut juga menjadi yang tertinggi setelah Tiongkok. Sejak Minggu (8/3) ada 97 kematian akibat Covid-19. Total sudah ada 463 penduduk Italia yang kehilangan nyawa akibat virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, tersebut. Jumlah penduduk yang positif terinfeksi mencapai 9.172 orang. Naik 24 persen dari data sebelumnya.

Beberapa maskapai seperti Ryanair dan British Airlines (BA) langsung menghentikan penerbangan dari dan ke Italia. Beberapa penumpang asing terjebak di bandara. Merek punya tiket, tapi tidak ada pesawat yang terbang.

STERILISASI: Petugas medis menyemprotkan disinfektan untuk mencegah virus korona di Kastil Nouvo di Kota Naplres, Italia.(Alessandro Pone/LaPresse via AP)

Prancis mengalami hal serupa. Penularan di negara tersebut terus beranjak naik. Ada lebih dari 1.600 orang yang terinfeksi dan 30 orang meninggal akibat Covid-19. Sementara itu, di AS, lima legislator Republik mengarantina diri sendiri. Sebab, mereka menghadiri sebuah acara dan bersalaman dengan orang yang akhirnya dinyatakan positif korona. Di antaranya, senator Ted Cruz, Matt Gaetz, dan Doug Collins. Donald Trump melakukan kontak dengan Collins dan Gaetz. Meski begitu, Trump tidak mengisolasi diri dan belum dinyatakan positif korona.

Saat ini ada 27 orang yang meninggal di AS akibat virus korona dan 729 lainnya positif terinfeksi. Gara-gara penularan yang kian merebak, beberapa universitas besar terpaksa melaksanakan kuliah online. Di antaranya, Harvard, Princeton, dan Columbia.

Di Tiongkok, Presiden Xi Jinping kemarin (10/3) berkunjung keA Wuhan. Kota itu merupakan tempat pertama munculnya Covid-19. Kunjungan tersebut menjadi tanda bahwa Negeri Panda itu sudah sampai di titik balik. Kehidupan mereka berangsur normal. WHO menyatakan bahwa ancaman bakal terjadinya pandemi Covid-19 itu sangat nyata. Namun, sekali lagi mereka mene-gaskan bahwa virus yang bisa merenggut nyata itu masih bisa dikontrol.

Sementara itu, langkah Italia menutup negaranya mendapat respons dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Menlu Retno Marsudi menuturkan, begitu pemerintah Italia memutuskan lockdown, pihaknya langsung berkomunikasi dengan Dubes RI di Roma. Dubes diminta memetakan kembali WNI yang ada di Italia. ’’Biasanya pemetaannya adalah sekali lagi berapa update jumlah WNI di Italia, sebarannya di mana,’’ terangnya di kompleks Istana Presiden Bogor kemarin (10/3). Selain itu, KBRI Roma diminta lebih intens berkomunikasi dengan WNI di negara tersebut.

Pemetaan itu penting agar apabila pemerintah Indonesia mengambil kebijakan terkait para WNI tersebut, seluruhnya sudah siap. Untuk saat ini, pemerintah terus memantau dampak lockdown itu terhadap WNI di Italia.

Di sisi lain, jumlah kasus positif korona di Arab Saudi terus bertambah. Sampai kemarin, kasus positif korona di sana mencapai 20 orang. Pemerintah setempat mengidentifikasi pusat persebarannya ada di Kota Qatif. Kota tersebut berada di sisi timur Saudi. Jauh dari Makkah yang berada di sisi barat.

Imbas meningkatnya jumlah kasus korona itu, pemerintah Saudi memberlakukan isolasi untuk Kota Qatif. Kondisi itu dibenarkan Dubes Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel. Namun, hingga tadi malam Agus tidak menjelaskan jumlah WNI yang berada di kota basis Syiah tersebut.

KBRI di Riyadh kemarin mengeluarkan imbauan terkait perkembangan terkini kasus korona di Saudi. Dalam imbauan itu, diperinci sebaran kasus korona di Saudi. Perinciannya adalah 14 orang dirawat di RS di Kota Qatif dan 1 orang dirawat di Riyadh. Se-lanjutnya, 4 orang dirawat di RS provinsi timur dan 1 orang lagi di RS Makkah. Dengan kondisi itu, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi memberlakukan beberapa kebijakan. Antara lain, menutup sementara jalur masuk dan keluar wilayah Qatif. Kemudian, mengizinkan penduduk Qatif untuk kembali ke rumah masing-masing.

Selain itu, Arab Saudi menghentikan perjalanan warga Saudi dan ekspatriat ke negara-negara Persatuan Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Lebanon, Syria, dan Korea Selatan. Kemudian Mesir, Italia, Iraq, Oman, Turki, Prancis, Jerman, dan Spanyol. KBRI di Riyadh mengimbau WNI di Saudi untuk sementara waktu tidak melakukan perjalanan ke Kota Makkah, Madinah, dan Qatif.

Kemenag Stop Aplikasi Pendaftaran Umrah

Kementerian Agama (Kemenag) menghentikan aplikasi pendaftaran umrah Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengelolaan Ter-padu Umrah dan Haji Khusus) mulai besok (12/3). Pertimbangannya adalah sampai saat ini belum ada kejelasan kapan dibuka kembali akses jamaah umrah oleh pemerintah Arab Saudi.

Pengumuman penghentian sementara aplikasi Siskopatuh itu disampaikan Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag M. Arfi Hatim. Dia mengatakan, dengan penghentian sementara itu, proses pendaftaran jamaah umrah tidak bisa dijalankan. ’’Tidak menerima pendaftaran baru,’’ katanya kemarin.

Arfi menegaskan, kebijakan itu diambil karena sampai sekarang belum ada kejelasan keberangkatan jamaah umrah. Pemerintah Saudi masih menutup akses penerbangan umrah untuk mencegah penyebaran virus korona. Arfi mengatakan aplikasi Siskopatuh akan dibuka kembali jika sudah ada kepastian dibuka kembali layanan ibadah umrah oleh pemerintah Saudi.

Kemenag kembali menyampaikan kepada jamaah umrah yang telah mendaftar supaya travel mengatur penjadwalan ulang. ’’Dengan tidak membebankan biaya tambahan kepada jamaah,’’ jelasnya. Selain itu, jika ada jamaah yang melakukan pembatalan, travel wajib melaporkan kepada Kemenag melalui email pembatalan.siskopatuh@gmail.com.

Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi menyambut baik keputusan Kemenag itu. Dengan penutupan itu, seluruh travel umrah atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) kompak tidak menerima pen-daftaran jamaah baru. (jp)

  • Dipublish : 11 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami