Warga Terpapar Debu Batu Bara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

PANGKEP – Debu bata baru terus menyusahkan ratusan masyarakat yang bermukim di Kampung Biringkassi Dalam, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro.

Permukiman itu hanya berjarak 10 hingga 100 meter dari penampungan batu bara milik PT Semen Tonasa yang beroperasi setiap hari.

Sejumlah warga saat ditemui di kediamannya, Rabu, 18 September, sementara membersihkan halaman rumahnya yang penuh dengan debu batu bara. Mengotori tangga, kursi, dinding, papan, atap, hingga lantainya dalam rumah.

Dari pengakuan warga, kondisi itu sudah dirasakan selama tiga tahun. Tidak ada perubahan berarti yang diberikan perusahaan dengan kondisi debu yang terus menjangkiti masyarakat itu.

Biba, seorang warga mengaku, perusahaan hanya menjadi racun bagi warga yang bermukim tidak jauh dari penampungan batu bara. Mereka menderita peradangan tenggorokan, asma, sesak nafas, dan gatal-gatal.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, saya ini sudah sering bolak-balii berobat ke Pustu. Mau diapa lagi rumah kita berdekatan dengan perusahaan, ini batuk-batuk tidak berhenti karena angin kencang jadi semakin banyak debu batu bara,” ungkanya.

Tidak hanya itu, Biba juga mengaku lelah setiap hari harus menyapu dan membersihkan debu batu bara. “Pegal-pegal tangan saya Nak, tiap hari menyapu dan mengepel. Ini dalam sehari banyak sekali debu, tebal sekali itu debu bara. Padahal rumah kita tutup, tetapi tetap banyak yang masuk,” keluhnya.

Warga lainnya, Nona Mustari yang rumahnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari pagar parusahaan itu mengaku sudah lelah melihat kondisi debu yang tiap hari mengotori rumahnya. “Seperti ini pekerjaan tiap hari, debu hitam di mana-mana. Sudah kita bersihkan, kotor lagi. Batuk-batuk itu sudah langganan kita rasakan karena dampak debu,” ujarnya.

None mengaku, pihak perusahaan tidak pernah memberikan bantuan kesehatan untuk masyarakat yang terdampak debu batu bara. Hanya ada uang konpensasi debu Rp30ribu tiap bulan untuk satu rumah.

“Tidak ada bantuan kesehatan, padahal di sini orang menderita karena debu, orang banyak sakit, batuk dan gatal-gatal karena ini debu batu bara yang menghitam,” keluhnya lagi.

Sementara itu, Kabiro Humas PT Semen Tonasa, Andi Muh Said Chalik saat dikonfirmasi terkait keluhan ini, mengaku, segera menurunkan tim untuk mengecek kondisi masyarakat yang terpapar debu batu bara di Desa Bulu Cindea itu. “Kita langsung turunkan petugas untuk cek kondisi masyarakat yang ada di sana,” janjinya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Bowong Cindea, Kecamatan Bungoro, Mappa Sabollah membenarkan, adanya pasien dengan keluhan batuk dan gatal-gatal yang dari Desa Bulu Cindea untuk berobat ke puskesmas tersebut.

“Gangguan kesehatan seperti batuk, peradangan tenggorokan dan gatal-gatal yang memang masuk dalam kategori penyakit tertinggi tiap bulannya di sini. Laki-laki ada 16 orang sementara pasien perempuan ada 50 orang,” ungkapnya.

(*)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 19 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami