Warning! Jakarta Jadi Zona Merah Lagi

(Foto: Dery Ridwansah/JawaPos.com)
(Foto: Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pembatasan-pembatasan di Jakarta mulai dibuka. Ironisnya, klaster penularan ternyata ikut bertambah. Pemicunya masih saja disiplin warga yang rendah.

Anggota Tim Pakar Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, ada perkembangan mengkhawatirkan di DKI Jakarta. Pada dua minggu terakhir, positivity rate (persentase kasus positif dari total tes) naik di atas ambang 5 persen. Yakni, 5,21 persen pada periode 9–15 Juli. Kemudian, naik lagi ke angka 5,94 persen pada periode 16–22 Juli. Padahal, awal Juni lalu angka positivity rate yang didapatkan dari puluhan ribu tes per hari selalu terkendali di bawah 5 persen. ”Dua pekan terakhir sudah di atas 5 persen. Berarti ada yang harus diperbaiki lagi,” jelas Dewi kemarin (29/7).

Berdasar data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19, klaster penularan tertinggi masih di rumah sakit (RS) atau dari pasien yang dirawat. Angkanya 42,95 persen dengan 5.475 kasus. Disusul persebaran transmisi lokal di komunitas/permukiman 39 persen. Kemudian, pasar 4,35 persen dan perkantoran 3,60 persen.

Dewi menjelaskan, dalam pembagian klaster, jenis local transmission atau persebaran di permukiman masih cukup banyak, yakni 283 klaster. Itu didapatkan dari aktivitas padat orang-orang yang bertemu dalam satu wilayah. Misalnya, saat olahraga bersama. Atau pasien positif yang berkunjung ke permukiman tertentu.

Klaster lain yang cukup membikin heboh adalah perkantoran. Meski, jumlahnya lebih kecil, yakni 90 klaster. Klaster lain dari kegiatan keagamaan. Mulai rumah ibadah seperti masjid dan gereja, asrama pendeta, pesantren, serta satu klaster dari tahlilan. Karena itu, menurut Dewi, perusahaan disarankan terus melakukan work from home (WFH). ”Kalaupun harus masuk, kapasitas jangan lebih 50 persen. Bisa dibikin sif,” jelasnya.

Satgas Covid-19 juga menemukan bahwa lima kota administratif di Jakarta berada pada zona risiko tinggi atau merah, sedangkan satu kabupaten pada zona risiko sedang.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito menyampaikan, situasi di Jakarta memang perlu mendapatkan perhatian masyarakat secara luas. Dia juga meminta pemerintah daerah untuk memperhatikan kondisi wilayah secara serius. Wiku mengatakan, berdasar data, Minggu lalu, 19 Juli 2020, ada 33 persen atau hanya dua kota administratif, yakni Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, yang memiliki risiko tinggi, yaitu merah. Sedangkan pada Minggu, 26 Juli, wilayah merah bertambah menjadi lima kota administrasi.

”Ini harus kita cermati bersama. Bahkan pada Minggu, 21 Juni, ada satu daerah zona tidak terdampak, yaitu Kepulauan Seribu, sekarang sudah menjadi risiko sedang,” kata Wiku kemarin.

Wiku menyebutkan, pertumbuhan kasus positif di DKI Jakarta meningkat cukup drastis jika dibandingkan dengan seminggu sebelumnya. Dari sebelumnya 1.880 kasus, kini menjadi 2.679 kasus. ”Ini adalah peningkatan yang cukup pesat. Kita bisa melihat gambaran distribusi kelompok umur pasien Covid-19. Terlihat pada usia 18 sampai dengan 59 tahun, jumlahnya yang positif adalah 80 persen,” tambahnya. Jumlah pasien meninggal di atas 45 tahun juga cukup besar, yaitu 80 persen. ”Artinya, penularan bisa terjadi di kelompok usia relatif produktif dan korban meninggal justru pada usia lanjut,” ucapnya.

Dari sisi jenis kelamin, dia menyampaikan, kasus positif relatif hampir seimbang. Sebanyak 52,3 persen pada kelompok laki-laki dan 47,87 persen pada kelompok perempuan. Dari sisi jumlah yang meninggal, laki-laki lebih banyak, yakni 61,26 persen. Sedangkan perempuan 38,74 persen. ”Ini menunjukkan bahwa semua pihak harus menjaga kelompok rentan, terutama pada usia lanjut. Juga pada kelompok jenis kelamin laki-laki,” kata Wiku. Meski demikian, Wiku mengatakan, DKI Jakarta telah melampaui standar WHO dalam hal pengujian. Dengan demikian, jumlah kasus yang tergambarkan juga cukup besar.

Selain DKI Jakarta, Wiku menyebut satgas menyoroti kondisi penularan di wilayah Provinsi Gorontalo. Dia melihat bahwa ada tiga wilayah administrasi di tingkat kabupaten dan kota di Gorontalo dengan risiko tinggi serta tiga dengan risiko sedang.

Posgagah di Jawa Timur

Pemprov Jatim membentuk Pos Gabungan Pencegahan dan Percepatan Penanganan Covid-19 atau Posgagah. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meresmikan Posgagah di GOR Hayam Wuruk, Makodam V/Brawijaya, kemarin (29/7).

Pemprov berharap Posgagah mampu menurunkan penularan Covid-19. Sebab, kasus konfirmasi positif di Jawa Timur termasuk paling tinggi. Posgagah itu bertujuan untuk mendukung penurunan kasus positif, khususnya di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Posgagah melakukan kegiatan yang difokuskan pada aktivitas pencegahan. Upaya tersebut memastikan masyarakat yang sehat tetap sehat. Dari sisi capaian aktivitas yang diharapkan, Posgagah berharap ada perubahan perilaku di tengah masyarakat.

”Kami berharap masyarakat menjadi lebih mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan. Posgagah ini akan mendukung aktivitas pencegahan Covid-19 selama satu bulan ke depan,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan. Lilik menambahkan, Posgagah akan melatih kelompok ibu dan sukarelawan. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pencegahan Covid-19 melalui penyampaian materi edukasi, mitigasi, dan sosialisasi yang berbasis pada kearifan lokal.

Sementara itu. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro kemarin meninjau kesiapan Bio Farma dalam mempoduksi vaksin. Bio Farma kini telah menambah kapasitas produksi menjadi 250 juta vaksin dalam setahun. ”Yang awalnya 100 juta dosis (vaksin) per tahun (kini) bisa menjadi 250 juta,” katanya dilansir Radar Bandung.

Untuk penduduk sebanyak 260 juta jiwa, kata dia, jumlah produksi harus mencapai 300 juta dosis. ”Kami ingin melihat kesiapan Bio Farma untuk memastikan kemandirian dalam produksi sekaligus melihat kesiapan proses produksi vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan Eijkman,” imbuhnya.

Bambang mengatakan, vaksin Merah Putih ditargetkan bisa diujicobakan pada hewan akhir tahun ini. Dengan demikian, pada 2021, vaksin tersebut dapat diuji klinis untuk fase berikutnya. ”Sebelum tahun depan masuk uji klinis, tentunya perlu waktu lagi sebelum kami serahkan ke Bio Farma untuk diproduksi,” katanya. (jp)

  • Dipublish : 30 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami