Waspadai 20 Lokasi Rawan Penyebaran Covid

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kasus penambahan COVID-19 di Indonesia dalam 24 jam terakhir menanjak tajam. Terjadi penambahan sebanyak 3.622 kasus baru. Karenanya masyarakat diminta untuk mewaspadai tempat-tempat yang rawan penularan dan disiplin menggunakan masker.

Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah meminta masyarakat untuk semakin waspada terhadap penyebaran. Terutama di tempat-tempat yang sangat rawan menjadi lokasi penularan dan penyebaran.

“Ada 20 tempat yang harus diwaspadai masyarakat selama pandemi COVID-19. Saat berada di tempat ini, masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan. Misalnya menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan rutin mencuci tangan,” katanya, Kamis (3/9).

Disebutkannya, 20 tempat yang rawan terjadi penyebaran adalah kegiatan sosial, tahlilan, pengajian, pernikahan, ibadah, asrama, pesantren, panti asuhan dan pengungsian.

“Masyarakat perlu sekali hati hati. Hati-hatinya harus ekstra,” tegasnya.

Tidak hanya itu, tempat-tempat yang harus diwaspadai lainnya adalah apartemen, kos-kosan, pemukiman padat, pasar dan perkantoran atau industri. Kemudian fasilitas kesehatan, transportasi umum, MRT, LRT dan KRL, komunitas olahraga, tempat wisata dan hiburan.

Kewaspadaan serta disiplin menerapkan protokol kesehatan sangat penting, mengingat positivity rate COVID-19 di Indonesia meningkat dalam tiga bulan terakhir.

Positivity rate merupakan persentase orang yang memiliki hasil tes positif COVID-19 dibandingkan jumlah orang yang dites.

“Ini menjadi bukti penularan di masyarakat terjadi semakin banyak, semakin tinggi,” ungkapnya.

Dijelaskannya positivity rate pada Juni 2020 berada di angka 11,71 persen. Namun, sebulan kemudian atau Juli 2020, positivity rate meningkat menjadi 14,29 persen. Dan terus meningkat pada Agustus 2020 yang menjadi 15,43 persen.

“Ini menunjukkan, positivity rate di Indonesia lima kali lipat dari target WHO (World Health Organization), yakni 5 persen,” katanya.

Diutarakan Dewi, kontribusi terbesar positivity rate nasional ini berasal dari pasien COVID-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit.

“Positivity rate lebih banyak dari pasien yang datang ke rumah sakit. Jadi memang karena beberapa daerah saja melakukan active case finding sehingga yang kita lihat orang datang ke rumah sakit sekitar 60 atau 70 persen dari angka yang ada di sini (positivity rate),” ujar dia.

Untuk Jakarta, Dewi mengatakan ada 11 hal yang berkontribusi sangat besar terkait penyebaran. Lima diantaranya penyumbang kasus terbesar. Lima yang berkontribusi sangat besar di penyebaran COVID-19 di Jakarta adalah pasien yang datang ke rumah sakit. Totalnya sebanyak 16.918 kasus atau 62 persen terhadap keseluruhan kasus COVID-19 di Jakarta.

“Tren ini meningkat karena kira-kira sebulan lalu persentasenya 50 persen sekarang naik menjadi 62 persen. Ini memang cukup banyak pasien yang bertambah datang ke rumah sakit yang sudah memiliki gejala,” ungkapnya.

Yang kedua, kata Dewi pasien di komunitas. Kontribusi kasusnya sebanyak 11.141 kasus atau sekitar 40,89 persen. Temuan pasien di komunitas ini kemungkinan berdasarkan hasil contact tracing.

Peringkat ketiga pasien dari perkantoran dengan kontribusi 2.307 kasus atau 8,47 persen. Selanjutnya, pasien anak buah kapal (ABK) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menyumbang sebesar 1.330 kasus atau 4,88 persen.

“Kelima pasar 622 atau 2,28 persen. Ini lima besar penyumbang kasus yang ada di DKI Jakarta,” ucapnya.

Sementara peringkat keenam ditempati pegawai di rumah sakit sebesar 428 kasus atau 1,57 persen. Selanjutnya, pegawai di puskesmas 193 kasus atau 0,71 persen, kegiatan keagamaan 149 kasus atau 0,55 persen, asrama 68 kasus atau 0,25 persen, rutan 54 kasus atau 0,20 persen dan panti 45 kasus atau 0,17 persen.

“Penyumbang kasus yang terjadi di DKI Jakarta ini terjadi pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi sejak 4 Juni sampai 24 Agustus,” katanya.

Dokter Spesialis paru Rumah Sakit (RS) Persahabatan Andika Chandra Putra mengatakan upaya pencegahan penularan COVID-19 yang paling efektif adalah menggunakan masker.

“Sangat efektif. Apalagi banyak referensi menyatakan bahwa penularan virus SARS-CoV-2 ini melalui airbone atau small droplet. Sehingga tentu dengan penggunaan masker, risiko penularannya lebih kecil,” katanya.

Dengan memakai masker, maka risiko penularan COVID-19 yang ditularkan melalui udara atau percikan dapat dicegah.

“Karena sebenarnya yang paling penting dalam penanganan ini adalah mencegah atau menurunkan risiko penularan. Karena kalau di rumah sakit itu kan sudah tertular, sudah sakit. Sudah ada keluhan. Sekarang bagaimana kita menurunkan risiko penularannya,” katanya.

Dikatakannya pula, masyarakat tak perlu khawatir bila menggunakan masker akan menimbulkan hipoksia atau berkurangnya kadar oksigen dalam jaringan untuk dapat mempertahankan fungsi tubuh, dan tidak juga mengurangi fungsi paru.

“Tentu ada penurunan (kadar) oksigen, tapi itu masih bisa ditoleransi,” katanya.

Pemakaian masker dapat menurunkan volume oksigen yang masuk ke dalam tubuh, tetapi penurunan tersebut tidak signifikan sehingga tidak sampai mengurangi kebutuhan oksigen dalam tubuh.

“Tidak signifikan (berkurangnya). Sebagai contoh misalkan kita yang sering menggunakan N95. Apakah fungsi parunya menurun atau oksigennya yang menurun? Sampai saat ini dari beberapa laporan kasus enggak ada perubahan (fungsi paru),” kata dia.

Sementara itu, terkait pemakaian masker saat berolahraga, terutama saat melakukan latihan cukup berat, ia menyarankan masyarakat untuk tidak perlu memakai masker. Tetapi olahraga itu sebaiknya dilakukan di zona hijau atau di tempat yang jauh dari keramaian sehingga pemakaian masker tidak diharuskan.

“Tujuan kita berolahraga bukan untuk mengejar prestasi. Tujuan kita hanya untuk mendapatkan kondisi yang optimal. Tapi juga yang terpenting (menghindari) risiko penularan. Sehingga kalau bisa olahraganya dilakukan di zona hijau atau bukan di keramaian,” katanya.

Meski masker efektif mencegah COVID-19, namun perlu dilengkapi dengan penerapan protokol kesehatan lainnya.

“Jadi tidak cukup dengan hanya misalnya pakai masker artinya semua masalah selesai, enggak juga. Jadi dalam WHO itu ada namanya engineering control, ada administrative control, termasuk salah satunya penggunaan masker, jaga jarak dan mengurangi keramaian di satu ruangan,” ujarnya.

Terpisah, Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono meminta agar masyarakat menjadikan penggunaan masker sebagai gaya hidup.

“Saya mengimbau ya teman-teman, gunakan masker. Pak Presiden menyampaikan ayo pakai masker, masker, masker. Saya selalu katakan itu sebagai gaya hidup dan menjadi budaya baru kita. Kalau teman-teman ketinggalan ponsel pasti bingung pulang ambil, ya kan. Sama seperti masker,” ujarnya.

Gatot meminta kepada jajarannya agar tidak lelah memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya penggunaan masker. Karena, virus tidak pandang bulu dan bisa menyerang siapa saja.

Menurutnya, kesadaran dalam diri untuk menggunakan masker adalah hal yang paling penting dibangun untuk memulihkan kondisi di Indonesia.

“Ini harus kita galakkan dari bawah sampai tingkat nasional. Kalau kesehatan kita ini pulih, maka ekonomi bangkit. Jangan sampai kita menjadi daerah merah, harus kita turunkan ke zona oranye. Kalau oranye turunkan menjadi kuning, lalu kuning jadi hijau, kalau hijau kita pertahankan terus seperti itu,” tuturnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, hingga Kamis (3/9) pukul 12.00 WIB jumlah kasus baru COVID-19 di Tanah Air bertambah 3.622 kasus. Sehingga total kasus COVID-19 kini mencapai 184.268 orang.

Sementara jumlah pasien sembuh bertaambah 2.084 orang, sehingga, total 132.055 pasien sembuh. Untuk pasien yang meninggal bertambah 134 orang. Angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 7.750 orang.(gw/fin)

  • Dipublish : 4 September 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami