Waspadai Korona Mutasi Baru

FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kementerian Kesehatan mewaspadai munculnya virus corona mutasi baru. Kekhawatiran itu muncul terkait rencana evakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi Anak Buah Kapal di kapal pesiar Diamond Princess.

Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Achmad Yurianto mengaku khawatir para WNI di kapal Diamond Princess terpapar virus corona mutasi baru.

“Dilihat dari tren penyakitnya seperti apa yang terjadi di China, maka kelompok ini dikhawatirkan munculnya mutasi baru dari Covid-19,” katanya di Jakarta, Jumat (21/2).

Dijelaskannya, dari beberapa referensi yang dibaca termasuk pemantauan situs milik badan kesehatan dunia atau WHO menunjukkan seseorang positif terpapar virus corona namun gejala klinisnya makin ringan.

“Bahkan beberapa dilaporkan tanpa gejala. Positif tanpa gejala,” ucapnya.

Hal ini menandakan, gejala medis dari penyakit tersebut sudah bergeser menjadi seperti flu biasa. Kondisi itu saat ini menjadi perhatian WHO yang kemudian kewaspadaan harus makin ditingkatkan.

Dampaknya, kebijakan karantina terhadap penderita diperpanjang hingga 28 hari yang sebelumnya hanya 14 hari. Apalagi, temuan di China keluhan baru muncul pada hari ke 20.

“Data di China juga ada yang baru muncul keluhannya di hari ke-20. Ini baru akhir-akhir ini dan kebanyakan di luar Hubei. Tetapi kebanyakan lewat 14 hari baru muncul gejalanya dengan gejala yang minimal,” katanya.

Karena itu, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Sebab gejalanya baru muncul setelah 14 hari meskipun gejala klinis jauh lebih ringan.

Dia pun menegaskan para WNI di kapal pesiar itu akan menjalani masa inkubasi lebih lama dibandingkan WNI yang sudah menjalani observasi di Natuna beberapa waktu lalu.

“Khusus untuk kapal yang di Jepang kita membuat kebijakan proses observasi selama dua kali inkubasi,” ujar dia.

Ia menjelaskan apabila para WNI tersebut sudah kembali ke Indonesia maka akan dilakukan pemeriksaan ulang. Baik secara fisik maupun virus yang mungkin saja terdapat di tubuh mereka.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan virus corona atau COVID-19 tak seganas MERS atau H5N1 (flu burung). Dijelaskannya, umumnya pasien yang meninggal karena COVID-19 kebanyakan bukan karena virus tapi oleh komorbid atau penyakit penyerta.

“Kasus meninggal mayoritas bukan murni karena virusnya tapi karena kondisi komorbid yaitu penyakit pendamping. Dia sudah punya sakit kemudian terinfeksi virus karena punya sakit, daya tahan tubuh rendah, masuk, sakit jadi tambah parah,” kata Daeng.

Diterangkan Daeng, persentase kematian yang disebabkan oleh corona, lebih rendah jika dibandingkan MERS atau H5N1. Hal itu adalah sebuah kabar gembira karena virus itu tidak seganas wabah-wabah sebelumnya.

Profil untuk orang-orang yang meninggal juga kebanyakan sudah lanjut usia, karena virus ini menyangkut dengan persoalan daya tahan tubuh.

“Meskipun tingkat keganasannya jauh lebih rendah dari virus-virus yang terdahulu, virus ini tingkat penyebarannya sangat cepat. Ini kabar tidak enaknya makanya belum beberapa bulan sudah 75.000,” kata dia.

Selain itu, salah satu masalahnya adalah karena belum ada vaksin untuk mencegah penyebaran dan obat untuk mengobatinya.

Total ada 78 WNI yang menjadi anak buah kapal di kapal tersebut. Selain empat WNI yang dinyatakan positif COVID-19, sisanya sebanyak 74 WNI masih berada di kapal tersebut.

Diketahui, kapal pesiar Diamond Princess sendiri kini tengah bersandar di Yokohama, Jepang, sembari melanjutkan proses karantina staf yang tersisa. Otoritas Jepang juga telah menyampaikan kepada semua negara asal awak kapal untuk datang membawa tim penjemput. Hal ini terjadi karena pihak Jepang tidak menyediakan tempat karantina di darat, sementara masa observasi akan segera berakhir pada Sabtu, 22 Februari 2020.(gw/fin)

  • Dipublish : 22 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami