Waswas Virus Korona, 7 Mahasiswa UNS di Tiongkok Minta Dipulangkan

Stephani (jaket merah) bersama mahasiswa bimbingannya di Tiongkok sebelum wabah virus korona (ISTIMEWA)
Stephani (jaket merah) bersama mahasiswa bimbingannya di Tiongkok sebelum wabah virus korona (ISTIMEWA)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

SOLO – Tujuh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang kuliah di Xihua University minta dipulangkan ke Tanah Air. Apalagi ada imbauan dari kampus agar seluruh mahasiswa asing kembali ke negara asal sampai wabah korona di Negeri Tirai Bambau itu mereda.

“Saya dan enam mahasiswa lainnya sudah diminta pulang sementara (ke Tanah Air) sampai situasi membaik. Tapi saya dan teman-teman terpaksa masih bertahan di asrama. Karena kesulitan biaya untuk pulang ke Indonesia,” kata Flavia Domitella Hindun Anjani kepada Jawa Pos Radar Solo melalui voice note aplikasi Whatsapp, kemarin.

Dia dan enam mahasiswa asal Indonesia merasa khawatir jika penyebaran virus semakin mengganas. Di Provinsi Chengdu, tempat mereka tinggal, sudah ada satu orang yang meninggal akibat virus tersebut. Bahkan 44 pasien dinyatakan positif terinfeksi.

“Informasi yang kami dapatkan jumlah korban terus bertambah. Kami makin waswas meski selalu mengenakan masker dan penutup seluruh tubuh jika keluar dari asrama. Kami juga dilarang bepergian ke sejumlah daerah untuk menghindari penularan,” jelasnya.

Sebelumnya, pihak Xihua University hanya menyarankan Flavia dkk untuk bertahan di asrama. Namun beberapa waktu terakhir ini, pihak kampus justru mengimbau agar mahasiswa asing di Xihua University kembali sementara ke negara masing-masing.

“Kami berharap UNS bisa memfasilitasi permohonan pada pemerintah agar bisa pulang ke Indonesia. Di sini kami merasa tidak aman dan semakin khawatir melihat perkembangannya. Tapi tidak punya biaya membuat kami kesulitan pulang. Semoga pemerintah memperhatikan dan memulangkan kami yang tertahan di Xihua University,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua UPT Layanan Internasional UNS, Murni Ramli mengaku belum mendapat informasi tersebut. Baik dari pihak mahasiswa yang bersangkutan maupun dari pihak Xihua University. Dia membenarkan ada 10 mahasiswa UNS yang berkuliah di kampus tersebut. Namun tiga di antaranya sudah kembali ke Indonesia terlebih dahulu. Untuk libur semester.

“Sampai saat ini kami belum mendapat surat resmi atau informasi langsung dari Xihua University. Jika memang pihak kampus tersebut mengimbau agar mahasiswa asing pulang ke negara asalnya masing-masing. Seharusnya ada edaran resmi yang masuk ke kami. Terlebih kami ada jalinan kerja sama dengan Xihua University,” ungkapnya dikofirmasi Jawa Pos Radar Solo.

Kendati demikian, Murni segera mencari informasi kebenaran itu. Termasuk kepada mahasiswa UNS yang kuliah di sana. Sebab, selama ini Murni tidak berkomunikasi langsung dengan mahasiswa yang berkuliah di Tiongkok. Hanya melalui perantara salah seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS sebagai dosen pembimbing mahasiswa di sana, Stephani.

“Kami intens berkomunikasi dengan Stephani. Karena yang sering kontak langsung dengan mahasiswa dia. Terakhir informasinya kondisi aman. Tapi kalau memang kondisinya berubah, kami akan lakukan langkah terbaik. Jika itu harus memulangkan anak-anak,” tandasnya.

Sementara itu dosen pembimbing mahasiswa UNS di Tiongkok, Stephanie memastikan mahasiswanya di Xihua University baik-baik saja. Terkait imbauan pihak kampus agar mahasiswa asing dapat pulang ke negara asalnya, dibenarkan olehnya. Namun bukan karena situasi memburuk akibat wabah virus korona.

“Memang diimbau jika bisa pulang karena pemerintah Tiongkok mengundurkan jadwal masuk perkuliahan semester genap untuk sementara waktu. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin anak-anak minta pulang karena daripada di asrama menunggu lama, jadi inginnya pulang,” ujarnya.

Stephanie mengaku keputusan pulang atau tidak adalah kebebasan mahasiswa. Bukan lantaran virus korona yang mulai mewabah di daerahnya. Namun karena kebijakan pihak kampus. Sehingga, jika mahasiswa ingin pulang karena merasa tidak ada kepastian waktu, dipersilakan asalkan dengan biaya sendiri.

“Jadi bukan karena keadaan yang memburuk. Di sana baik-baik saja. Tidak semengerikan yang dibayangkan. Hanya saja mereka beraktivitas lebih banyak di asrama. Karena tidak boleh ke mana-mana. Di sana dilarang bepergian jauh terutama ke tempat kerumunan,” jelasnya.

Stephanie membenarkan jika sudah ada puluhan pasien yang terinfeksi virus korona. Namun ia meyakini bahwa pasien tersebut adalah lansia. Bukan dari kalangan anak muda atau dewasa. Sebab antibodinya berbeda. Lansia lebih rentan terserang virus.

“Dan lagi di sana pola hidupnya tidak seperti di Wuhan. Mereka makan makanan normal. Tidak aneh-aneh. Jadi kalau anak-anak itu antibodinya bagus tetap aman. Karena jaraknya dengan Wuhan sangat jauh sekali,” sambungnya.

Stephanie terus berkomunikasi dengan mahasiswa UNS di Xihua University. Jika seandainya situasi di sana mulai memburuk, ia memastikan pihak Xihua University akan mengirim surat edaran untuk memulangkan mahasiswa tersebut. “Pemerintah Indonesia juga pasti akan membantu. Jadi tidak perlu khawatir,” tandasnya. (radarsolo.jawapos.com)

  • Dipublish : 29 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami