WHO: Negara Tak Boleh Keluarkan Paspor Imunitas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta kepada pemerintah di seluruh dunia, agar tidak mengeluarkan “paspor imunitas” atau sertifikat bebas infeksi virus corona (Covid-19) pada pasien sembuh. Sebab, tidak ada bukti bahwa seseorang yang telah sembuh tidak dapat tertular virus corona lagi.

“Saat ini tidak ada bukti bahwa orang yang telah pulih dari Covid-19 dan memiliki antibodi dilindungi dari infeksi kedua,” kata WHO dalam sebuah pernyataannya, dilansir BBC, Senin (27/4).

Menurut WHO, paspor imunitas justru hanya akan meningkatkan penularan virus. Pasalnya, mereka yang sudah sembuh menganggap dirinya tidak mungkin tertular lagi sehingga mengabaikan tindakan pencegahan.

“Sejauh ini menunjukkan bahwa orang yang pulih dari infeksi corona memiliki antibodi dalam darah mereka. Namun, beberapa dari mereka memiliki tingkat antibodi yang sangat rendah,” terangnya.

Terlebih lagi, kata WHO, tidak ada penelitian yang mengevaluasi apakah keberadaan antibodi terhadap virus tersebut memberikan kekebalan terhadap infeksi selanjutnya pada manusia.

“Pada titik ini dalam pandemi tidak ada cukup bukti tentang efektivitas kekebalan yang dimediasi antibodi untuk menjamin keakuratan ‘paspor imunitas’ atau ‘sertifikat bebas risiko’,” imbuhya.

WHO mengatakan, tes laboratorium untuk mendeteksi antibodi memerlukan validasi lebih lanjut untuk menentukan keakuratannya dan perlu membedakan antara infeksi sebelumnya.

Pemerintah di sejumlah negara telah mempertimbangkan untuk mengizinkan orang yang telah pulih dapat bepergian atau kembali bekerja. Pasalnya, pemberlakuan lockdown telah melumpuhkan perekonomian di seluruh dunia.

Pekan lalu, Chile mengumumkan rencana untuk memberikan “paspor kesehatan” kepada pasien yang telah pulih dari Covid-19. Setelah memeriksa keberadaan antibodi, mereka akan diizinkan untuk kembali bekerja.

“Kami memahami maksud mencoba untuk melihat siapa yang dapat kembali bekerja dengan aman atau yang pada akhirnya dapat bebas dari risiko menularkan orang lain,” kata juru bicara WHO Tarik Jaserevic kepada Al Jazeera.

“Tapi sayangnya, dari sudut pandang ilmiah, kita tidak tahu apakah seseorang yang telah terinfeksi oleh coronavirus mendapatkan kekebalan ini, dan jika seseorang mendapatkan kekebalan ini, berapa lama itu akan bertahan,” sambungnya.

WHO juga percaya, bahwa tes serologis yang saat ini digunakan untuk mencari keberadaan antibodi perlu validasi tambahan untuk menentukan akurasi dan reliabilitasnya.

Menurtnya, secara khusus tes harus dapat membedakan antara respons imun terhadap virus corona dari antibodi yang dihasilkan selama infeksi.

“Orang yang terinfeksi satu atau yang lain dari virus ini mampu menghasilkan antibodi yang berinteraksi dengan antibodi yang dihasilkan dalam menanggapi infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2,” pungkasnya. (der/fin)

  • Dipublish : 28 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami