WNI dari Wuhan Mendarat di Batam Malam Ini, Lalu Langsung Dikarantina

SOSIALISASI: Petugas kesehatan membagikan masker dan pamflet kepada para penumpang di Stasiun Gambir, Jakarta, Jumat (31/1). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
SOSIALISASI: Petugas kesehatan membagikan masker dan pamflet kepada para penumpang di Stasiun Gambir, Jakarta, Jumat (31/1). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Operasi penjemputan WNI dari Provinsi Hubei, Tiongkok, dimulai hari ini. Sesuai skenario, pesawat yang mengevakuasi para WNI itu akan mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, malam ini.

Rencana evakuasi WNI dan menjadikan Batam sebagai tempat pendaratan terungkap dari surat permohonan izin carter flight pihak Batik Air yang diteken Direktur Utama Batik Air Achmad Luthfie. Surat tertanggal 30 Januari tersebut ditujukan ke Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Berdasar surat tersebut, Batik Air mengajukan permohonan ke Kemenhub untuk rute penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng (CGK) ke Wuhan (WUH). Pesawat yang digunakan tipe A330 dengan nomor penerbangan ID 8619. Pesawat tersebut terbang dari Cengkareng hari ini pukul 06.00 dan diperkirakan tiba di Wuhan pukul 12.00.

Selanjutnya, pesawat akan mengangkut WNI di Wuhan, lalu terbang kembali ke Indonesia pukul 13.00 dengan bandara tujuan Hang Nadim. Diperkirakan pesawat mendarat di Hang Nadim malam ini pukul 19.00 WIB.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Grup Danang Mandala Prihantoro yang dikonfirmasi Batam Pos memilih irit bicara. ”Saya belum bisa memberikan keterangan terkait itu,” ujarnya.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim, Batam, Suwarso siang kemarin juga irit bicara. ”Kami masih coba koordinasikan (dengan berbagai pihak, Red),” ucapnya. Namun, sumber Batam Pos di Hang Nadim membenarkan bahwa pesawat Batik Air A330 dengan nomor penerbangan ID 8619 akan mendarat malam ini. Dia juga membenarkan bahwa pesawat itu akan mengangkut WNI yang dievakuasi dari Wuhan. ”Insya Allah landing di Batam besok (hari ini, Red),” ujarnya tadi malam.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, pemulangan WNI dari Wuhan dengan pendaratan di Bandara Hang Nadim sudah dikoordinasikan bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam. ”Tadi kami sudah diundang rapat di kantor mereka,” tutur dia kemarin (31/1).

Didi menyebutkan, petugas medis sudah bersiap menyambut kedatangan WNI dari Wuhan. ”Leading sector-nya KKP, kami hanya supporting. Bersama tim lainnya kami akan mengupayakan langkah antisipasi,” jelasnya.

Kepala KKP Kelas I Batam Achmad Farchanny saat ditemui di kantornya kemarin sore enggan banyak bicara. Dia hanya memastikan bahwa KKP siap melakukan penanganan yang maksimal jika WNI dari Wuhan mendarat di Hang Nadim. Menurut dia, KKP akan melaksanakan sesuai standar operasional kekarantinaan yang berlaku. ”Kami siap. Kami ini kan prajurit. Jadi, harus siap apa perintah pimpinan,” ujarnya.

Dalam prinsip kekarantinaan, menurut Achmad, orang yang datang dari Wuhan atau negara sumber virus akan langsung dikarantina di daerah tempat mereka didaratkan. Tak terkecuali jika mendarat di Batam. ”Di mana para pelaku perjalanan itu datang (sampai) dari negara terjangkit, maka di situlah dikarantina. Sampai di Batam, Semarang, maupun Jakarta, di mana pun maka di situlah akan dikarantina,” ujarnya.

KONVOI: Warga Prancis yang baru dievakuasi dari Wuhan dikawal menuju lokasi karantina di Istres-Le Tube Air Base, Prancis Selatan, Jumat (31/1). (PASCAL GUYOT/AFP)

Perihal waktu karantina, Achmad menyebut dua kali masa inkubasi, yakni 28 hari. ”Para WNI ini belum bisa dipulangkan langsung ke daerah asalnya sebelum masa karantina berakhir,” tegasnya. Kendati pemerintah pusat belum menyebutkan lokasi karantina, Wali Kota Batam Muhammad Rudi sudah menyiapkan Asrama Haji Batam Centre. ”Lokasi karantina yang sudah mendapat perintah wali kota di Asrama Haji. Kalau ada perubahan, saya belum tahu,” terang Achmad.

Kepastian penjemputan WNI dari Provinsi Hubei ditegaskan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi kemarin (31/1). Dia mengaku telah bertemu dengan Duta Besar (Dubes) Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian kemarin pagi. Dalam pertemuan tersebut, Xiao Qian menyampaikan clearance pendaratan dan pergerakan pesawat untuk evakuasi WNI dari Provinsi Hubei.

”Dalam kaitan ini, kami ingin menyampaikan apresiasi kita atas kerja sama otoritas RRT (Republik Rakyat Tiongkok, Red),” katanya.

Penjemputan akan menggunakan pesawat berbadan lebar. Dengan begitu, pesawat bisa langsung menuju Indonesia tanpa perlu transit. Kemarin tim aju telah memasuki Provinsi Hubei. Persiapan di sejumlah titik WNI, khususnya di Wuhan, sedang berjalan. Sementara itu, persiapan penerimaan di Indonesia juga terus dilakukan sesuai prosedur dan protokol kesehatan. ”Semua perkembangan ini telah saya laporkan kepada presiden,” ungkap Retno.

Kesiapan evakuasi tersebut dibenarkan Ketua Ranting Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Huangshi Kamal. Para mahasiswa di sana sedang menjalani pendataan. Mereka juga diminta beristirahat yang cukup agar kondisi fit ketika menjalani evakuasi hari ini (1/2). ”Pesan dari Pak Dubes, anak-anak istirahat cukup biar besok (hari ini, Red) semua ready,” tuturnya saat dihubungi kemarin (31/1).

Para WNI yang didominasi mahasiswa itu berada di beberapa titik di Hubei. Menurut informasi yang diperoleh Kamal, mereka akan berkumpul di Bandara Tianhe Wuhan, Hubei, Tiongkok, untuk kemudian dievakuasi. Dari lokasi masing-masing, para WNI tersebut diangkut dengan bus. ”Insya Allah, nggak ada kesulitan. Mereka langsung kumpul di sana (Bandara Tianhe, Red). Karena bandara di Wuhan cuma satu,” paparnya.

Mengenai rencana karantina ketika tiba di Indonesia, Kamal menyatakan, informasi itu sudah diketahui para WNI di Hubei. Namun, belum ada informasi detail mengenai berapa lama dan lokasi karantina. Termasuk opsi dijadikannya Pulau Natuna sebagai lokasi karantina. Namun, sejak awal Kamal menekankan bahwa siapa saja yang mengambil langkah evakuasi harus mengikuti protokol kesehatan. ”Harus percaya pada keputusan pemerintah,” tegasnya.

Kamal tidak ikut dalam penerbangan evakuasi. Sebab, saat ini dia berada di luar Hubei. ”Kebetulan pas musim liburan. Saya sedang di Xichao. Nanti pulang setelah memastikan anak-anak pulang dulu,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Presiden Joko Widodo menegaskan, pemulangan WNI dari Wuhan akan melalui sejumlah tahap. Mereka tidak bisa langsung pulang ke rumah masing-masing begitu mendarat di Indonesia. ”Tentu ada observasi dan lain-lain sebelum dikembalikan kepada orang tua masing-masing,” jelasnya.

Mengenai lokasi pemulangan, dia enggan menyebutkan secara detail nama bandaranya. ”Nanti hanya di satu bandara sementara. Disatukan dulu sampai diobservasi,” tambahnya.

Dari informasi yang diterima Jawa Pos, para WNI bakal dikarantina selama 14 hari. Sangat mungkin mereka dibawa ke Natuna untuk menjalani observasi atau karantina. Kabar Natuna sebagai tempat karantina beredar sejak kemarin pagi. Salah satunya ditunjukkan oleh persiapan Dinas Kesehatan Kepulauan Riau.

Upaya karantina tersebut ditujukan untuk memastikan bahwa mereka bebas dari 2019-nCoV yang telah menewaskan 213 orang di Tiongkok. Skema karantina di pulau terluar itu juga dilakukan pemerintah Australia. Mereka menempatkan warganya yang baru pulang dari Tiongkok di Christmas Island untuk dikarantina sebelum dikembalikan ke wilayah masing-masing.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Weindra Waworuntu enggan membeberkan lokasi karantina. Menurut dia, yang berhak menjelaskan adalah Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari kementerian tersebut.

Yang jelas, menurut Wiendra, ada beberapa opsi pemulangan. Bahkan, ada skenario seandainya ada WNI yang bergejala mengidap virus korona. ”Perintah presiden, semua WNI harus dipulangkan. Sakit atau tidak,” tegasnya.

Kemenkes ditunjuk untuk melakukan observasi kesehatan. Dimulai dari pesawat hingga masa karantina. Kemenkes, menurut Wiendra, tengah menyiapkan pedoman karantina. Tempat karantina bukan seperti rumah sakit. Lebih cenderung seperti asrama. Mereka yang dikarantina akan diberi kebutuhan dasar. ”Setidaknya menyiapkan kebutuhan dasar seperti makan, ibadah, toilet. Seperti di rumah,” ujarnya. Di tempat tersebut, mereka yang dikarantina akan beraktivitas seperti biasa. Kemenkes menyiapkan sarana olahraga. Makanan pun diatur ahli gizi.

Pada bagian lain, rencana evakuasi tersebut disambut baik oleh para orang tua mahasiswa. Mendapat kabar rencana evakuasi, Prof Subandi langsung menghubungi anaknya, Brandy Juan Ferrero, di Wuhan sekitar pukul 19.20 untuk memastikan kebenaran evakuasi tersebut.

”Saat saya hubungi, Juan sedang di-briefing sama tim KBRI,” ujar guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Unesa itu. Setelah mendengar kepastian dari anaknya, Subandi langsung merasa bahagia. ”Gak apa-apa dikarantina dan kita belum bisa melihatnya langsung, yang penting dia bisa pulang,” ujar Subandi.

Sementara itu, Tri Suto, orang tua Dian Aprillia Mahardini, juga merasa senang. Suto menambahkan bahwa selama ini istrinya, Wahyu Karyawati, sering menangis jika mendengar kabar persebaran virus korona. Namun setelah Suto mengabari anaknya dievakuasi, istrinya langsung sujud syukur. ”Kemarin-kemarin gak bisa tidur, lah ini dah tidur, dan merasa lega,” katanya. (jp)

  • Dipublish : 1 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami