WSBK Jadi Momentum Kebangkitan Pariwisata RI

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Ajang balapan motor World Superbike (WSBK) telah sukses diselenggarakan di Pertamina Circuit Street Mandalika pada 19 – 21 November 2021. Balapan itu menjadi momentum kebangkitan sektor pariwisata di Indonesia.

Bukan hanya momentum kebangkitan pariwisata saja, event WSBK juga sukses meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat setempat, salah satunya di desa wisata Kuta, di kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pengelola BUMDes Putri Nyale, Desa Kuta, Satriawan mengatakan, event WSBK sukses mendorong perekonomian masyarakat Desa Kuta, sebagai salah satu Desa yang paling dekat dengan lokasi Sirkuit Mandalika.

Tak hanya bisnis Homestay saja yang diserbu para pengunjung event WSBK, bahkan pemuda pemudi Desa juga mendapatkan lapangan pekerjaan untuk menjadi Cleaning Service dan Marshall, pada gelaran balapan motor Superbike tersebut.

“Ada 400 orang pemuda dan pemudi Desa Kuta dan sekitarnya yang dikontrak untuk bekerja sebagai tenaga CS (Cleaning Service) dan Marshall pada event WSBK. Totalnya 400 orang untuk CS dan 250 orang untuk jadi Marshall,” ungkap Satriawan kepada Fin.co.id, dikutip Selasa (30/11/2021).

Sementara itu, salah satu pengelola homestay di wilayah Lombok Selatan, Lalu Mauluddin juga mengungkapkan bahwa ia dan rekan-rekannya sesama pengelola homestay juga merasa diuntungkan dari gelaran WSBK di Mandalika. Menurutnya seluruh homestay yang berada di Desa Wisata Kuta habis tersewa pada saat event WSBK berlangsung.

“Semua kamar habis disewa, bahkan warga-warga lain yang saat ini rumahnya belum dijadikan Homestay, tertarik untuk menjadikan homestay juga,” tutur Lalu yang juga merupakan Ketua Kelompok Desa Sadar Wisata (Pokdarwis) itu, menjawab pertanyaan Fin.co.id.

Dukungan BUMN SMF Untuk Pembiayaan Homestay Desa Wisata

Lalu Mauluddin sendiri merupakan salah satu penerima manfaat dukungan pembiayaan Homestay oleh PT Sarana Multigriya FInansial / SMF (Persero). Lalu mengaku mendapat pembiayaan dari perusahaan pembiayaan sekunder perumahan itu senilai Rp100 juta, dengan imbal hasil 3 persen tanpa agunan, sehingga ia bisa menjadikan rumahnya sebagai Homestay.

“Dapat pinjaman Rp100 juta, tenor 5 tahun, cicilan sekitar Rp1,8 jutaan,” ujar Lalu.

Ia bercerita, pada saat event WSBK berlangsung, harga sewa normal homestay yang biasanya berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, dapat ia dengan harga Rp400 ribu hingga Rp600 per hari. Umumnya, penyewa selama WSBK merupakan pekerja ajang kompetisi balapan tersebut.

Senada dengan Lalu, penerima manfaat pembiayaan Tomi Julianda Akbar juga mengaku terbantu dengan adanya gelaran WSBK. Meskipun harus banting harga sewa menjadi Rp800 ribu per bulan, dari Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per malam, namun Tomi tetap bersyukur homestay kelolaannya dapat terisi. Menurutnya, homestay miliknya laku disewa oleh pekerja yang bekerja dalam proyek pembangunan sirkuit Mandalika.

“Lumayan untuk bayar listrik keseharian,” tuturnya.

Pengelola homestay di Desa Wisata Kuta ini juga mengaku telah menerima dana pinjaman dari SMF sebesar Rp50 juta, dengan cicilan sebesar Rp1.160.000 per bulan, dan tenor 4 tahun. Tomi juga mengungkapkan dirinya juga sempat menerima relaksasi pembayaran kredit dari SMF.

“Tahun ini (pinjaman) masih belum dicicil lagi.” ungkapnya.

Sebagai informasi saja, SMF telah merealisasikan Program Pembiayaan Homestay di 11 desa, pada sejumlah Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di seluruh Indonesia. Pembiayaan yang terserap untuk 91 unit homestay, dengan total nilai Rp 11,2 miliar dari Rp 20 miliar yang dianggarkan untuk program tersebut.

Direktur SMF Trisnadi Yulrisman mengatakan, untuk tahun 2022, pihaknya akan menambah lagi pagu anggaran untuk program tersebut. Namun besaran anggaran tambahan belum dapat disebutkan karena masih masih perlu dibahas dalam RKA-KP.

“Kami belum bisa tentukan nilainya (penambahan anggaran), sebab kami masih mengkaji. Namun, yang pasti pipeline tahun depan, terdapat sekitar 61-70 unit homestay yang akan dibiayai oleh sisa dana Rp 8,8 miliar,” ungkap Trisnadi.

Dia memastikan, SMF akan terus mendukung pengembangan dan pembangunan homestay di wilayah-wilayah dengan potensi wisata tinggi khususnya di lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas yaitu Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).

Namun demikian tidak menutup kemungkinan SMF juga akan memberikan dukungan pembiayaan homestay di luar lima wilayah tersebut. Sebut saja Banyuwangi (Jawa Timur), Tasikmalaya dan Sumedang (Jawa Barat), Aceh, Padang, Lampung, dan daerah lainnya seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. (fin/jm)

  • Dipublish : 1 Desember 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami