Wuhan Akhiri Lockdown, tapi Tetap Waspada

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Suasana malam di Wuhan, Tiongkok, Selasa lalu (7/4) tak ubahnya malam tahun baru. Jutaan warga bersantai di pinggir Yangtze, sungai terpanjang se-Asia, menanti tepat pukul 00.00.

Saat semua sudut Wuhan berpendar cahaya. Menandai resmi berakhirnya kuntara (kunci sementara/lockdown) yang menghantui kota industri tersebut selama dua bulan belakangan.

Di antara mereka, Tong Zhengkun terlihat sangat emosional. Sebab, bagi dia, juga bagi jutaan warga Wuhan lainnya, pesta cahaya di tengah malam itu menandai awal baru.

’’Sudah 70 hari saya tak keluar rumah. Di rumah selama itu hampir membuat saya gila,’’ ungkap Tong seperti dikutip Associated Press.

Sebelumnya Pemprov Hubei lebih dulu mengakhiri kebijakan kuntara di wilayahnya pada 25 Maret lalu, kecuali di Wuhan. ”Dengan berakhirnya isolasi kota itu, pemerintah setempat mengizinkan warga dan pengunjung untuk keluar masuk kota. Asal, mereka bisa menunjukkan kode hijau pada aplikasi yang diwajibkan pemerintah.

Pas tengah malam, ratusan mobil langsung menyerbu gerbang tol. Otoritas di ibu kota Provinsi Hubei itu memperkirakan 65 ribu penumpang berbagai moda transportasi keluar Wuhan pada hari pertama selepas kuntara.

’’Kru pesawat akan mengenakan masker, sarung tangan, dan kacamata sepanjang perjalanan,’’ ujar Gua Binxue, ketua tim pramugari penerbangan MU2527, kepada Xinhua News Agency.

Itu adalah penerbangan pertama setelah pintu Wuhan kembali terbuka. Wuhan berada dalam teror virus SARS-CoV-2 selama 76 hari.

Selama itu, kota tersebut melaporkan 50 ribu pasien positif Covid-19 dan 2.500 korban jiwa. Angka itu menyumbang sekitar 70 persen dari total kasus dan korban jiwa di Tiongkok.

Namun, kebijakan ekstrem yang diberlakukan rezim Xi Jinping terbukti berhasil menekan penularan virus korona. Sejak dua minggu lalu, kebijakan karantina di Wuhan sudah mulai dilonggarkan. Kegiatan ekonomi juga sudah dimulai.

Luo Ping, kepala penanggulangan epidemi Wuhan, mengatakan bahwa 10.641 pabrik dan bisnis skala besar sudah kembali beroperasi. Mereka juga menyediakan bantuan agar usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) bisa kembali bangkit. Termasuk bantuan pinjaman dengan total 20 miliar yuan (Rp 45,8 triliun).

Namun, Luo masih memperingatkan warganya agar tetap berhati-hati. Dia mengaku kecewa melihat beberapa warga mulai lengah dan tidak menggunakan masker saat keluar rumah.

’’Terbukanya kembali Wuhan tidak berarti cobaan sudah berakhir. Risiko penularan bisa muncul seiring masyarakat kembali keluar rumah,’’ ungkap dia kepada CCTV.

Pemerintah masih mengerahkan aparat dan relawan untuk mengecek suhu di beberapa tempat keramaian. Mereka juga masih mengawasi ketat di lingkungan yang dinilai belum aman. Warga di sana hanya bisa mengirimkan satu orang untuk keluar selama dua jam per hari.

Zhang Jinyu, pensiunan guru yang tinggal di dekat Pasar Huanan, memilih tinggal di rumah. Perempuan 58 tahun itu mengaku tak terpaksa tinggal di rumah.

Sebab, dia masih khawatir dengan risiko penularan. Apalagi, Pasar Huanan merupakan tempat wabah dimulai. ’’Kami tentu saja bosan di rumah terus. Tapi, kami mengerti apa risikonya dan siap bekerja sama,’’ tegasnya.

Kekhawatiran Zhang juga berasal dari angka kasus tanpa gejala di Tiongkok yang masih bermunculan. Selama sepekan terakhir, lebih dari dua pertiga kasus Covid-19 datang dari pasien yang tak menunjukkan gejala. Pasien yang disebut silent carrier itu bisa jadi penyebab gelombang kedua Covid-19 di Tiongkok.

’’Saat ini angka kasus masih terlalu kecil untuk disimpulkan. Namun, ini menunjukkan bahwa virus masih ada di Tiongkok,’’ ujar Leo Poon Lit-man, kepala divisi kesehatan publik di University of Hong Kong, kepada South China Morning Post. (jp)

  • Dipublish : 9 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami